KHUTBAH JUMAAT 122 – 27 FEBRUARI 2009
HAVE WISDOM AS THE WINNING CHARACTER
Sidang Jumaat yang dirahmati Allah
Saya menasihati diri sendiri, dan menasihati saudaraku muslimin, dengan nasihat untuk bertaqwa kepada Allah, berpegang dengan agama Allah, bersandar dengan kitab Allah, berpaut pada sunnah Rasulullah, bermatlamat mendapatkan ganjaran Allah, di dunia dan di akhirat. Have taqwa, it is the best way out of troubles, in this world and the next. It is a way out from unhappiness, and provision from where one does not expect because of His words, Whoever has taqwa of Allah He will make a way out for him and provide him from where he does not expect’.
Sidang Jumaat yang dikasihi
Keperluan untuk mematangkan setiap peribadi dengan sifat berhikmah, sememangnya jelas tertera di dalam al Quran. Menerusi kitabullah ini, kita menelusuri ketepatan maksud, keutuhan sifat dan kepentingan reaksi dan respons terhadap hikmah yang bagaimana yang perlu ada dalam diri setiap muslim. Sesungguhnya di dalam al Quran, perkataan al hikmah membawa variasi pengertian, berbeza pemberatan setiap satunya pada ayat-ayat al Quran, serta merujuk kepada suasana dan keperluan yang pelbagai, namun ianya menjurus ke arah satu, iaitu setiap muslim wajib untuk berusaha memilikinya. Pertamanya, hikmah didefinisikan sebagai ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang mampu menjulang pemiliknya untuk mengerjakan kebaikan, dan berada dalam lingkungan peribadatan berdasarkan keilmuan. Firman Allah dalam surah al Baqarah ayat 269, ‘ Allah memberikan hikmah kebijaksanaan (ilmu yang berguna) kepada sesiapa yang dikehendakiNYA (menurut aturan yang ditentukanNYA) dan sesiapa yang diberikan hikmah itu, maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya’. Ketajaman minda hamba Allah dituntut untuk berbicara dan digerakkan bagi memahami peringatan Allah dalam ayat ini. Ini sekaligus memaparkan kesinambungan kehebatan seseorang hamba, apabila ia memperolehi ilmu, atau mencari jalan untuk ilmu, serta mempraktikkan ilmu itu semata-mata kerana Allah, ia dikategorikan sebagai manusia yang terpilih, malah wajib meyakini bahawa Allah berkuasa dan pasti memberikan ganjaranNYA. Sabda Rasulullah,’ Tiada hasad melainkan dalam dua perkara, pada seorang lelaki yang dikurniakan kelebihan harta, lalu digunakannya untuk urusan kebenaran (yakni diredhai Allah), dan pada seorang lelaki yang dikurniakan hikmah (ilmu pengetahuan), lalu digunakannya dengan baik dan dijadikannya sebagai wasilah penyampai didik kepada orang lain’. Bicara hikmah diteruskan menerusi surah ali Imran ayat 48, ‘Dan Allah akan mengajarnya ilmu menulis dan hukum peraturan agama dan juga kandungan kitab-kitab Taurat dan Injil’. Ayat ini diturunkan Allah, memuji kelebihan Nabi Isa, yang diberikan hikmah, yakni ketepatan dari sudut percakapan dan hujjah, juga dari sudut perlakuan dan tindakan. Setiap muslim perlu berhikmah, yakni perlu tepat dalam perkataan dan diserasikan ketepatan itu dengan tindakan. Kita amat rungsingkan suasana di mana muslim terserlah kehebatannya dalam perkataan, namun tiada keseragaman dari sudut tindakan. Perlakuan yang tidak mencirikan percakapan, atau tindakan yang tidak menepati kata, ianya tidak dianggap berhikmah, malah lebih bersifat melemah ummah dan memusnahkan. Perkataan Hikmah dari persada al Quran turut membawa pengertian kelembutan, kesopanan, ketertiban dan gaya kebijaksanaan dan diplomasi. Ini dirakamkan Allah dalam surah an Nahl ayat 125, ‘Serulah ke jalan Tuhanmu (Wahai Muhammad) dengan hikmah (kebijaksanaan yang bergaya dan berdiplomasi) dan nasihat pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka (yang engkau serukan itu) dengan cara yang lebih baik; Sesungguhnya Tuhanmu Dialah jua yang lebih Mengetahui akan orang-orang yang sesat dan Dialah yang Mengetahui siapakah yang mendapat pertunjuk’.
My dear muslims
The point of reciting al Quran, is to get our brain and mind work, working in terms of finding the rationale of each and one of the verse, in many ways. As human, it is our nature not to easily accept things or thoughts or even commands and advices, unless we came to a stand that we realized, there’s a wisdom and rationale behind it. Our kids wouldn’t simply go to beds at the exact time that we requested, unless they find it first that there’s rationale of doing it. If they couldn’t figure out the rationale, they would simply argue on why should they obey the request. Last two years, public in London shown their protest through various demonstrations and such, challenging the raise of the public transportations cost in London. It simply due to the fact that they don’t find any rationale that can support the idea, as looking at other EU countries, it claims that the cost of the public transportations are much lesser than in UK. People will not be motivated to perform prayers or any act of worships, if they could not use their brain to understand and accept the concept of being the servant of Allah. Wisdom In Islam encompasses in its radiant words the true goals that all of us must strive for. Its bounty of mercy, forgiveness and guidance is stunning in its clarity. Hikmah, which directly translates to wisdom, has several meanings, varying from a type of knowledge, a mode, and an approach to deal therewith. Let’s set out this pursuit by referring to the words of the best of humans, our beloved and honoured Prophet, peace be upon him; narrated by Muslim’ There should be no envy but only in case of two persons: one having been endowed with wealth and power to spend it in the cause of Truth, and (the other) who has been endowed with wisdom and he decides cases with the help of it and teaches it (to others)’. The basis of wisdom is fear of God. Fear should lead to hope, and hope should lead to love and this all should ultimately lead to a level of perfection in doings. Nothing in Islam is ordained to us without it having ultimate benefit for us, regardless of whether we see it otherwise. The true rank of something is its rank in the eyes of God and through Syariah. And the true rank of someone is their eternal rank in the Hereafter. For all we know, muslims nowadays are really in the massive of need of wisdom, in structuring and administrating the system and foundation, the political issues, the economic movements of ups and downs, the internal and external challenges, the decision and policies, the strategies and working towards it, and the existence and survival of muslim nation. Should muslims oppressed or strangled in the darkness in any places of the world, it is not because of the religion that caused them such situation, but it is due to the weaknesses of its followers. We’re losing the muslim character, the winning character, inch by inch, should the wisdom is no longer be the criteria of finding solutions or executing the end of any issues arise. We need to grab that winning character, that strength factor, that great image, which we used to have, and surely is not impossible to gain it back.
Barakallahu li walakum
Mohd Erfino Johari
erfino@masduke.net
0 comments:
Post a Comment